Di banyak perusahaan, HRD sering bekerja keras tetapi belum selalu mendapat ruang strategis di meja direksi. Padahal, di tengah persaingan bisnis, transformasi digital, dan tantangan talent yang terus berubah, HRD memiliki peran besar dalam menentukan arah dan keberhasilan perusahaan. Artikel ini membahas bagaimana HRD bisa membuktikan nilainya melalui data, KPI bisnis, efisiensi proses, penghematan biaya, hingga program pengembangan karyawan yang berdampak nyata. Dengan pendekatan yang lebih strategis, berbasis angka, dan fokus pada kontribusi terhadap tujuan perusahaan, HRD dapat tampil sebagai partner bisnis yang penting dan didengar dalam pengambilan keputusan.
Kenapa HRD Sering Kurang Didengar di Meja Direksi?
Banyak tim HRD merasa sudah bekerja keras, tetapi kontribusinya tidak selalu terlihat jelas oleh direksi. Mereka mengurus rekrutmen, absensi, payroll, hingga training, namun ketika rapat direksi berlangsung, suara HRD kadang tenggelam di antara angka penjualan, biaya operasional, dan laporan keuangan.
Beberapa penyebab utamanya antara lain:
1. HRD Terlalu Identik dengan Administrasi
Direksi sering melihat HRD hanya sebagai pengelola dokumen dan proses administratif: surat kontrak, data absensi, klaim, dan sebagainya. Jika HRD tidak menunjukkan peran strategisnya, wajar jika direksi menganggap fungsi ini hanya sebagai cost center.
2. HRD Tidak Bicara Bahasa Bisnis
Direksi bicara dalam bahasa angka: profit, margin, cash flow, dan risiko. Sementara itu, HRD sering bicara dalam istilah seperti engagement, budaya, atau kepuasan karyawan tanpa menghubungkannya dengan hasil finansial. Akhirnya, usulan HRD terdengar “kurang mendesak” dibandingkan proyek lain.
3. Keputusan HRD Kurang Didukung Data
Masih banyak keputusan HRD yang berbasis intuisi: “kayaknya turnover lagi naik” atau “sepertinya karyawan butuh training”. Tanpa data yang jelas, akan sulit bagi HRD untuk meyakinkan direksi bahwa masalah SDM benar-benar perlu diprioritaskan.
4. Aktivitas Tidak Diikat ke Hasil Bisnis
Direksi tidak terlalu peduli berapa banyak training yang diadakan HRD, tetapi lebih tertarik pada dampaknya: apakah produktivitas naik, apakah error berkurang, apakah penjualan meningkat. Selama HRD hanya melaporkan “jumlah aktivitas”, bukan “hasil”, nilainya akan sulit terlihat.
Mindset Baru: HRD sebagai Business Partner
Untuk mendapat tempat di meja direksi, HRD perlu mengubah cara pandang, dari sekadar “pengelola karyawan” menjadi business partner yang membantu perusahaan mencapai targetnya.
1. Fokus pada Dampak, Bukan Hanya Aktivitas
Contoh sederhana: alih-alih melaporkan “100 orang ikut training Excel”, HRD bisa menyampaikan bahwa setelah training, proses laporan keuangan bulanan selesai dua hari lebih cepat, sehingga tim finance punya waktu lebih untuk analisis. Dampak konkret seperti ini jauh lebih mudah diterima direksi.
2. Memahami Masalah Bisnis, Bukan Hanya Masalah Karyawan
HRD perlu tahu target revenue, kapasitas produksi, tantangan operasional, dan prioritas tiap divisi. Dengan memahami konteks bisnis, HRD bisa menawarkan solusi yang relevan, misalnya program pengembangan supervisor di area yang sering menjadi bottleneck produktivitas.
3. Mengubah Persepsi: HRD sebagai Investasi
Saat HRD bisa membuktikan bahwa program retensi menghemat biaya rekrutmen ratusan juta rupiah per tahun, atau bahwa program coaching menaikkan kinerja tim penjualan, maka posisi HRD bergeser dari cost center menjadi investment center.
Bicara Bahasa Direksi: KPI dan Risiko
Agar lebih didengar, HRD harus membawa indikator yang langsung berhubungan dengan kinerja bisnis. Dengan KPI dan indikator risiko yang tepat, kontribusi HRD menjadi lebih mudah diukur dan dihargai.
KPI HRD yang Menarik Perhatian Direksi
- Turnover cost: berapa besar biaya yang hilang karena karyawan keluar.
- Revenue per employee: seberapa produktif tenaga kerja yang dimiliki.
- Time to fill dan time to productivity: seberapa cepat HRD mengisi posisi kosong dan membuat karyawan baru siap kerja.
- Productivity index: indikator sederhana yang menghubungkan output dan jumlah orang.
Dengan membawa angka-angka ini, HRD tidak lagi sekadar bicara “masalah karyawan”, tetapi bicara tentang biaya, risiko, dan peluang yang bisa langsung dipahami direksi.
Data sebagai Senjata Utama HRD
Data adalah senjata paling kuat bagi HRD saat ingin mengubah pandangan direksi. Tanpa data, usulan HRD hanya akan dianggap opini. Dengan data, HRD bisa menunjukan tren, pola, dan dampak yang sulit dibantah.
Mulai dari People Analytics Sederhana
HRD tidak perlu menunggu sistem canggih. Bisa dimulai dengan:
- Data absensi dan lembur per divisi
- Data turnover per jabatan
- Data produktivitas dasar (output vs jumlah orang)
- Data biaya rekrutmen dan training
Dari data sederhana ini, HRD dapat menarik insight: divisi mana yang paling sering lembur, jabatan apa yang paling sering resign, dan area mana yang paling banyak menyerap biaya training.
Visualisasi Data untuk Direksi
Direksi tidak punya waktu membaca laporan 20 halaman. HRD cukup membawa satu halaman dashboard dengan 4–5 indikator kunci, tren dalam beberapa bulan terakhir, dan poin insight utama. Format yang ringkas ini membuat HRD terlihat jauh lebih profesional dan strategis.
Contoh Kasus: HRD Membuktikan Nilainya

Kasus 1: Turnover Cost dan Penghematan Ratusan Juta
Di sebuah perusahaan manufaktur, HRD menemukan bahwa rata-rata 6 operator keluar setiap bulan. Setelah menghitung biaya rekrutmen, onboarding, dan hilangnya produktivitas, HRD menyimpulkan bahwa turnover cost mencapai lebih dari 500 juta rupiah per tahun. Dengan data ini, HRD mengusulkan perbaikan shift, program coaching supervisor, dan peningkatan komunikasi. Dalam beberapa bulan, turnover turun dan perusahaan menghemat ratusan juta per tahun. Direksi jadi melihat HRD sebagai penyelamat biaya, bukan sekadar pengelola karyawan keluar-masuk.
Kasus 2: Efisiensi Lembur Berkat Analisis Data Absensi
Di perusahaan lain, lembur menjadi “biaya rutin” yang tidak pernah dipertanyakan. HRD kemudian membuat dashboard absensi dan lembur, memetakan divisi mana yang paling boros lembur, dan mengidentifikasi pola kerja yang tidak efisien. Setelah mengusulkan redesign shift dan aturan lembur yang lebih ketat, biaya lembur turun lebih dari 30%. Direksi melihat langsung hasil kerja HRD dalam bentuk penghematan nyata.
Kasus 3: Training Berbasis TNA Meningkatkan Produktivitas
Sebelumnya, training hanya dilakukan berdasarkan feeling. HRD kemudian melakukan training needs analysis pada tim finance, menemukan bahwa keterlambatan laporan disebabkan lemahnya kemampuan Excel. Setelah merancang training yang spesifik untuk kebutuhan mereka, proses laporan yang semula butuh lima hari menjadi hanya tiga hari. Dengan membawa data sebelum dan sesudah, HRD menunjukkan bahwa training bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi dengan hasil yang terukur.
Membangun Aliansi Internal untuk Menguatkan HRD
Agar lebih kuat di meja direksi, HRD tidak bisa jalan sendiri. HRD perlu membangun aliansi dengan departemen lain, terutama finance, operasional, dan IT.
- Dengan finance: HRD bisa menghitung ROI program, turnover cost, dan dampak finansial dari kebijakan SDM.
- Dengan operasional: HRD bisa memahami kebutuhan nyata di lapangan dan merancang program yang tepat sasaran.
- Dengan IT: HRD bisa mendorong digitalisasi proses HR dan integrasi data untuk analisis yang lebih baik.
Ketika HRD datang ke direksi dengan dukungan data finance, pemahaman operasional, dan solusi digital dari IT, usulan yang dibawa akan jauh lebih sulit untuk ditolak.
HRD Roadmap 12 Bulan: Bukti bahwa HRD Bergerak Sistematis
Direksi senang melihat rencana yang jelas. HRD bisa menyusun roadmap 12 bulan untuk menunjukkan bahwa fungsi ini punya arah yang terukur.
0–3 Bulan: Quick Wins
- Menyusun dashboard absensi dan turnover sederhana
- Merapiakan SOP dasar HRD
- Memetakan posisi kritis dan jabatan dengan turnover tinggi
3–6 Bulan: Fondasi Strategis
- Membangun proses rekrutmen yang lebih terstandar
- Menjalankan training berbasis TNA
- Memulai survei engagement sederhana
6–12 Bulan: Level Lanjutan
- Mengembangkan people analytics dasar
- Merancang succession plan untuk posisi kunci
- Menjalankan program budaya kinerja yang konsisten
Dengan menunjukkan roadmap seperti ini, HRD tampak lebih serius, terstruktur, dan pantas dilibatkan dalam diskusi jangka panjang di level direksi.
Tips Presentasi HRD ke Direksi
Cara HRD menyampaikan ide sama pentingnya dengan isi idenya. Presentasi yang bertele-tele akan membuat direksi kehilangan fokus, meski data HRD sebenarnya sangat kuat.
- Gunakan struktur: masalah → dampak finansial → akar masalah → solusi.
- Batasi slide, fokus pada poin kunci dan visual yang jelas.
- Gunakan istilah sederhana dan hubungkan langsung dengan target bisnis.
- Siapkan satu halaman ringkasan (executive summary) yang langsung ke inti.
Dengan cara ini, HRD akan terlihat profesional dan siap duduk sejajar dengan fungsi lain di meja direksi.
Penutup: Saatnya HRD Naik Kelas
Peran HRD jauh lebih besar daripada sekadar mengurus administrasi dan dokumen karyawan. Di era persaingan ketat dan perubahan cepat, HRD bisa menjadi penentu keberhasilan perusahaan jika mampu menunjukkan kontribusinya secara strategis dan terukur. Dengan menggunakan data, KPI yang relevan, contoh kasus konkret, dan komunikasi yang tepat, HRD dapat membuktikan bahwa ia layak mendapat tempat di meja direksi sebagai partner bisnis yang sejajar, bukan sekadar fungsi pendukung di belakang layar.

